Langsung ke konten utama

Jilbab yang Robek (True Story)



Bulan Ramadhan tahun 2009 silam, tepatnya memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan dan saat itu saya masih duduk dibangku kelas 3 SMP. Ahad pagi, setelah selesai makan sahur saya kembali meneruskan tidur. Sekitar pukul 10 pagi handphone saya berdering, rupanya ada SMS masuk dari Nur yang mengajak keluar untuk pergi bermain. Segera saya beranjak dari kamar, memakai jilbab dan bersiap untuk pergi.

Saat itu ibu sedang menerima tamu di rumah, sehingga saya pun mengurungkan niat untuk berpamitan kepada beliau. Akhirnya saya memutuskan langsung pergi ke rumah Nur dengan mengendarai sepeda karena jarak rumah kami cukup dekat. Sesampainya di rumah Nur, sepeda saya parkirkan di halaman rumahnya dan kami berdua pun pergi berboncengan naik motor tanpa menggunakan helm menuju warung internet (warnet). Nur mengajak saya untuk menemaninya pergi ke warnet, sebab pada tahun 2009 itu sedang ngetrend media sosial facebook. Dia pun menggerakan mouse untuk scrolling halaman akun facebook miliknya. Setelah satu jam kami pun keluar dari bilik warnet tersebut, dan membayar ke kasir sebesar Rp 3000.-

Setelah selesai dari warnet, Nur mengajak saya untuk bermain ke rumah Ina. Kami berdua kembali naik motor menuju rumah Ina. Sesampainya di rumah Ina, ternyata sepi tidak ada orang. Rupanya Ina sedang ada pengajian keluarga yang tak jauh dari rumahnya. Saya dan Nur pun menghampiri Ina untuk mengajak bermain bersama.

“Naik apa? Masa’ bonceng bertiga naik motor?”  tanya Ina.

”Iya, gak pa pa kok” jawab Nur.

Saya pun menyetujui hal tersebut. Akhirnya, kami bertiga naik motor bertiga tanpa menggunakan helm. Nur berada paling depan, Ina di bagian tengah dan saya berada paling belakang. Nur mengendarai motor dengan kecepatan cukup tinggi sambil bercanda dengan Ina. Suara adzan dzuhur pun berkumandang saat itu dan tiba-tiba terdengar suara,

“Brrraaakkkk...”

Ternyata motor kami menabrak seorang penjual pintu yang membawa gerobak. Semuanya terjadi begitu cepat, seketika kami bertiga berdiri dan saling memandang penuh kebingunggan sembari beristigfar.

“Astagfirullah, ini gimana?” tangis kami bertiga.

Kami bertiga terluka dan berdarah. Saya melihat Nur dengan kondisi pelipis kepala, tangan dan paha yang berdarah, mulut dan hidung Ina penuh dengan darah. Telapak tangan saya berdarah terkena aspal jalan, jilbab saya yang penuh dengan robekan yang cukup panjang.

Qadarullah, tiba-tiba Ayah saya datang menggunakan mobil dan segera membawa kami menuju klinik terdekat. Ternyata Ayah saya sedang dalam perjalanan untuk menjemput kakak yang sedang pesantren kilat di sekolahnya dan Ayah benar-benar melihat bagaimana kronologi kejadian dari sebelum dan sesudah kecelakaan melalui spion mobilnya. Ayah saya mengenali bahwa yang berada di paling belakang adalah anaknya maka beliau langsung putar balik dan menghampiri lokasi kejadian.

             Nur dan Ina pun segera ditangani oleh perawat klinik sedangkan saya masih duduk terdiam di kursi tunggu sebab hanya ada 2 tempat tidur dan mereka berdua lukanya cukup parah. Suasana cukup mencekam, sebab kondisi Ina yang mengeluarkan banyak darah hingga jatuh pingsan. Nur pun mengalami luka yang parah, wajahnya sangat pucat dan akhirnya Ayah saya membelikan teh hangat dan Nur harus membatalkan puasanya. Setelah luka mereka dibersihkan, perawatnya merujuk mereka ke RS Sardjito sebab luka yang cukup parah dan harus segera ditangani. Qadarullah, Om saya sedang melintas di depan klinik tersebut memutuskan berhenti karena melihat mobil Ayah saya terparkir disana. Sehingga, Nur dan Ina segera dibawa ke RS Sardjito oleh Om saya tersebut. Kedua telapak tangan saya harus dibersihkan dan dibalut dengan kasa.

Hari Raya Idul Fitri tahun 2009 pun tiba, saya sangat bersyukur kepada Allah yang masih memberikan saya kesempatan hidup dan kesehatan di hari yang suci ini. Meskipun saat itu saya tidak bisa berjabat tangan seperti biasa sebab kedua tangan saya masih dibalut oleh kasa. Ina dan Nur pun harus merayakan Idul Fitri dirumah karena luka mereka yang belum pulih dari jahitannya. Idul Fitri tahun 2009 menjadi pelajaran berharga bagi saya.

Hal pertama terkait izin orang tua, segala sesuatu yang kita lakukan tanpa adanya izin dari orang tua menyebabkan keberkahan yang hilang. Seperti sabda Rasulullah yakni ridha Allah tergantung pada ridha orang tua”. Kedua terkait akibat dari melanggar peraturan lalu lintas yang menyebabkan hal yang fatal. Sama halnya dengan peraturan-peraturan Allah, ketika seseorang melanggar peraturanNya maka akan ada akibat yang didapatkan. Salah satu perintah Allah yakni tentang menutup aurat yang dijelaskan pada QS: Al-Ahzab [33]:59,

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak wanitamu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka,” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”

Menggunakan jilbab menjadi salah satu kewajiban bagi setiap muslimah. Tak perlu terlalu banyak bertanya alasan mengapa Allah memerintahkan hal ini kepada setiap muslimah. Awalnya saya menggunakan jilbab di kelas 3 SMP ini hanya mengikuti anjuran dari kakak saya. Saat itu saya belum memahami dan memaknai betul tentang perintah menggunakan jilbab pada ayat ini. Kejadian kecelakaan ini menjadi titik balik saya tentang hikmah menggunakan jilbab dan pertolongan Allah akan datang kepada hamba yang berusaha melaksanakan perintahNya.

Arah robekan jilbabnya mengitari leher bagian depan. Nampaknya jilbab saya terkena goresan benda tajam saat itu, Alhamdulillah leher saya tidak terluka sedikit pun. Rasa syukur luar biasa atas pertolongan Allah saat itu. Sedangkan, saat itu Nur belum menggunakan jilbab, hanya memakai kaos pendek dan celana jeans yang menyebabkan pelipis kepala, kakinya harus dijahit dan tangannya mengalami patah tulang. Alhamdulillah, saat ini kami bertiga sudah menggunakan jilbab dan semoga Allah senantiasa istiqomahkan kami dalam menjalankan perintahNya. Kejadian ini menambah keyakinan saya bahwa setiap peraturan-peraturan Allah pasti mendatangkan kebaikan bagi hambaNya. Tidak semua perintah Allah kita laksanakan setelah mengetahui alasan logisnya. Terkadang kita akan mendapatkan jawaban mengapa Allah memerintahkan suatu hal setelah kita melaksanakan dan merasakan hikmahnya.  wallahu’alam bishowab..


-@choir195-
#TrueStory 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Arti Kebarokahan dalam Hidup?

Bismillah.. Sudah hampir 1 tahun berada di Bogor, kota hujan penuh keberkahan. Selayaknya di Jogja yang begitu banyak taman-taman surge (majelis ilmu), di Bogor pun cukup bertebaran taman-taman surge meskipun tidak sebanyak di Jogja. Memang, di Jogja setiap hari ada kajian dari waktu subuh hingga isya’ di berbagai masjid-masjid, kampong dan kampus. Maka tak heran jika ada teman yang mengatakan bahwa ‘Jogja itu surganya kajian’ .   Itulah mungkin salah satu dari kerinduan Jogja.. Salah satu majelis ilmu yang saya ikuti pada hari Sabtu, 21 September 2019 yakni kajian Ngariung Yuk yang ternyata udah batch 6. Kajian ini ternyata juga diadakan dari Bogor Raincake milik pasangan artis Shireen Sungkar dan Teuku Wisnu (a.k.a cinta fitri yang terwujud di dunia nyata). Pada Kajian Ngariung Yuk batch 6 ini mengundang seorang Ustadz ternama yakni Ust Oemar Mita di The Sahira Hotel, Bogor. Meskipun ada kuota tapi acara ini gratis. Hal ini cukup menginspirasi saya bahwa bisnis yang kemud

BAHAGIA: bukan tentang harta, tapi tentang rasa

          Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) didapuk sebagai provinsi termiskin di Pulau Jawa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan sebanyak 11,49% penduduk miskin pada 2022. Artinya, pengeluaran mereka berada di bawah garis kemiskinan Yogyakarta, yakni Rp551.342 per kapita/bulan. Sedangan Indeks Pembangunan Manusaia (IPM) di provinsi DIY tertinggi kedua nasional yakni sebesar 80,64 pada 2022. IPM menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya.Mari melihat satu data lagi yakni indeks kebahagiaan DIY sebesar 71,7 pada 2021, angka lebih besar dari rata-rata nasional yang sebesar 71,49. Indeks Kebahagiaan Indonesia merupakan indeks komposit yang dihitung secara tertimbang menggunakan dimensi (perasaan dan makna hidup) dan indikator dengan skala 0-100. Semakin tinggi nilai indeks menunjukkan tingkat kehidupan penduduk yang semakin bahagia.                       Data kemiskinan,

Rekomendasi Buku dan Kelas Pra-Nikah