Langsung ke konten utama

H-2 Idul Fitri 1435 H...


iseng- iseng dan kangen sama mbak Ida di H-2 Lebaran Idul Fitri 1435 H ini, aku buka webnya fajarida.com dan membaca (lagi) ini http://fajarida.com/fajar-di-27-nya/.

Hmm.... rasanya Ramadhan dan Idul Fitri 1435 H ini nampak berbeda dengan biasanya. Biasanya kita bertiga masak bareng buat buka puasa, buka puasa bersama dengan personil lengkap 5 orang kemudian biasanya kita berangkat sholat ied bersama dan juga 'ujung-ujung' lengkap dengan 5 personil keluarga kami.

Namun, sepertinya untuk tahun ini kita hanya bisa 4 personil. Karena mbak Ida juga lagi hamil 9 bulan putra pertamanya dan tinggal bersama suaminya di Godean. Oktober kemarin baru saja melangsungkan akad nikah. Memang hidup itu harus terus berjalan, mbak Ida udah nikah dan udah mau jadi calon ibu (semoga lancar waktu persalinannya), mbak Hanif tinggal skripsi dan aku sekarang baru akan memasuki semester 3.
Hidup itu perjalanan yang penuh dengan tantangan, semoga Allah selalu mempermudah jalan kami dalam melaksanakan perintahMu... Aamiin.


#CoretanCeritaku
-cca19-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Arti Kebarokahan dalam Hidup?

Bismillah.. Sudah hampir 1 tahun berada di Bogor, kota hujan penuh keberkahan. Selayaknya di Jogja yang begitu banyak taman-taman surge (majelis ilmu), di Bogor pun cukup bertebaran taman-taman surge meskipun tidak sebanyak di Jogja. Memang, di Jogja setiap hari ada kajian dari waktu subuh hingga isya’ di berbagai masjid-masjid, kampong dan kampus. Maka tak heran jika ada teman yang mengatakan bahwa ‘Jogja itu surganya kajian’ .   Itulah mungkin salah satu dari kerinduan Jogja.. Salah satu majelis ilmu yang saya ikuti pada hari Sabtu, 21 September 2019 yakni kajian Ngariung Yuk yang ternyata udah batch 6. Kajian ini ternyata juga diadakan dari Bogor Raincake milik pasangan artis Shireen Sungkar dan Teuku Wisnu (a.k.a cinta fitri yang terwujud di dunia nyata). Pada Kajian Ngariung Yuk batch 6 ini mengundang seorang Ustadz ternama yakni Ust Oemar Mita di The Sahira Hotel, Bogor. Meskipun ada kuota tapi acara ini gratis. Hal ini cukup menginspirasi saya bahwa bisnis yang kemud

BAHAGIA: bukan tentang harta, tapi tentang rasa

          Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) didapuk sebagai provinsi termiskin di Pulau Jawa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan sebanyak 11,49% penduduk miskin pada 2022. Artinya, pengeluaran mereka berada di bawah garis kemiskinan Yogyakarta, yakni Rp551.342 per kapita/bulan. Sedangan Indeks Pembangunan Manusaia (IPM) di provinsi DIY tertinggi kedua nasional yakni sebesar 80,64 pada 2022. IPM menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya.Mari melihat satu data lagi yakni indeks kebahagiaan DIY sebesar 71,7 pada 2021, angka lebih besar dari rata-rata nasional yang sebesar 71,49. Indeks Kebahagiaan Indonesia merupakan indeks komposit yang dihitung secara tertimbang menggunakan dimensi (perasaan dan makna hidup) dan indikator dengan skala 0-100. Semakin tinggi nilai indeks menunjukkan tingkat kehidupan penduduk yang semakin bahagia.                       Data kemiskinan,

Rekomendasi Buku dan Kelas Pra-Nikah