Langsung ke konten utama

Amanah dan Pejuang SurgaNya

Bismillah…
            Jika berbicara mengenai amanah, mungkin ini pembicaraan yang sangat ‘berat’. Karena amanah bukanlah hal sepele, namun ini berkorelasi kuat dengan pertanggungjawaban kepada Allah SWT di akhirat kelak. Amanah memang tidak pernah salah memilih dan tak pernah salah pundak. Ini bukan persoalan kita mampu atau tidak, bukan persoalan kita mau atau tidak dan pula bukan persoalan kita pantas atau tidak pantas. Tetapi, ini persoalan bahwa amanah itu datang atas skenarioNya supaya menjadikan kita menjadi lebih dekat kepada Allah SWT. Karena amanah ini bukan hal kecil dan bukan persoalan yang mudah untuk dilaksanakan.
Membahas sedikit tentang amanah, disamping itu ada hal yang lebih penting juga yaitu terkait kewajiban kita sebagai seorang pemuda muslim, yaitu berdakwah. Sebagai umat muslim wajib untuk berdakwah dengan mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, seperti yang sudah tertulis pada Al-Qur’an:
 “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”( QS Ali Imran :104 )
 Disamping itu sebagai seorang pemuda muslim yang masih produktif, waktu inilah saat-saat EMAS (Efektif Massive dan Strategis). Sebab, di saat masih pemuda inilah waktu yang sangat efektif untuk melakukan berbagai sesuatu. Pemuda itu memiliki kekuatan secara fisik, kecerdasan dan waktu yang produktif. Disamping itu pemuda adalah agent of change, mempunyai ide-ide yang kreatif, masih mempunyai pikiran yang jernih dan memiliki semangat yang tinggi. Sehingga, hal ini sangat membantu dalam melaksanakan dakwah pemuda atau bisa disebut dakwah thulabi. Dakwah thulabi ini memiliki tujuan yaitu, Membangun sekolah dan kampus sebagai unsur kekuatan dakwah dan kekuatan perubah, mencetak intelektual muslim, dan engembangkan ilmu pengetahuan untuk mendukung peradaban islam.
Adapun sasaran-saran dakwah thulabi yaitu:
1.     Terbangun kesadaran dan pemahaman islam di sekolah dan kampus
2.     Tersiapkannya kader dakwah thulabiyah yang siap mengemban misi keilmuan
3.     Terbangunnya kebebasan dakwah di sekolah dan kampus
4.     Terdayagunakannya berbagai sarana untuk pengembangan dakwah
5.     Berkembangnya infrastruktur gerakan untuk memperbesar kekuatan dakwah islam
6.     Terbangunnya kerjasama dengan berbagai unsur di bidang ilmu, profesi, dakwah, sosial politik
(sumber: buku Risalah Dakwah Thulabi)
Beberapa poin diatas merupakan sasaran dakwah thulabi yaitu berada dalam lingkungan sekolah dan kampus karena disanalah banyak pelaku dakwah pemuda. Dalam konteks dakwah thulabi ini, peran kita sebagai pemuda muslim ialah bergerak membawa perubahan menuju kebaikan. Hal ini, salah satunya dapat melalui proses pembinaan dasar melaui mentoring di sekolah maupun kampus. Meskipun cara mentoring bukanlah satu-satunya cara dalam berdakwah, karena kita sebagi pemuda yang aktif dalam berorganisasi juga dapat berdakwah dalam sebuah organisai tersebut. Seperti, dalam organisasi di sekolah maupun kampus dengan membawa ide-ide baru untuk dijadikan sebuah program kerja yang nantinya akan membawa perubahan anggota organisasi tersebut menuju kebaikan. Jadi, selain kita mengikuti sebuah organisasi, sebagai agen perubahan kita juga wajib untuk memiliki visi dakwah. Sehingga, diharapkan akan menghasilkan pemuda-pemuda muslim yang aktif, cerdas, juga memiliki akhlak yang mulia dan semangat dalam meneggakan agama Allah di muka bumi ini melalui berdakwah. Hal ini bukanlah proses yang sebentar karena proses tarbiyah ini bisa dikatakan cukup panjang. Pembinaan yang sudah dimulai sejak SMP, kemudian hasil kader dari SMP akan selanjutnya dibina ke SMA dan setelah SMA pun juga nanti ada pembinaan lanjut ketika sudah di perguruan tinggi. Idealnya seperti itu, namun tidak semua orang mengalami proses tersebut, ada yang dimulai sejak SMP ada juga yang dari SMA dan ada pula yang dimulai ketika masuk ke perguruan tinggi. Meskipun demikian, sejatinya tujuannya pun sama yaitu bagaimana mengoptimalkan dakwah pemuda tersebut, sehingga akan mencetak ilmuaan dan cendekia muslim yang cerdas, berakhlak dan berjuang dalam menegakkan agama Allah di muka bumi ini.
Namun, disamping itu dalam perjalanan kereta dakwah thulabi ini tidak dipungkiri bahwa ada beberapa problematika, yaiu :
  1. Kurangnya aktivis dakwah
  2. Melemahnya komitmen dan produktifitas amal
  3. Rendahnya kualitas manajemen kerja dan kepemimpinan
  4. Kesulitan rekruitmen objek dakwah
  5. Lemahnya tingkat penguasaan amal dakwah
  6. Macetnya kaderisasi
  7. Tersedotnya sebagian besar potensi dakwah unuk amal siyasi
  8. Lemahnya komunikasi
(sumber: buku Risalah Dakwah Thulabi)
Dalam buku tersebut, telah disebutkan beberapa hal mengenai problematika yang sering terjadi. Realita selama perjalanan kereta dakwah ini memang penuh suka dan duka, seperti halnya di keluarga muslim alumni sekolah yang semakin berjalannya waktu kader-kader dakwah sudah mulai menghilang satu per satu. Sehingga, berdampak pada kefektifan dalam pelaksanaan program kerja yang kurang maksimal karena sumber daya manusia yang minim. Kemudian, lemahnya komunikasi antar anggota lain karena kesibukan masing-masing yang berdampak pada seringnya terjadi miss comunicaton antar anggota. Beberapa hal tersebut, juga sebagai salah satu penghambat dalam proses pengkaderan.
            Mengenai tentang kaderisasi, hal yang sangat penting dalam sebuah organisasi atau jamaah. Kaderisasi adalah proses tarbiyah jangka panjang dengan sebuah pembekalan yang memiliki pedoman dan tahapan tertentu. Kaderisasi merupakan ‘jantung’ dari sebuah organisasinya, karena organiasai itu dianggap ada ketika memang didalamnya ada pelaku yang melaksanakan program kerjanya. Proses kaderisasi ini akan mencetak kader sebagai aset utama dalam sebuah gerakan. Kader disini yang dimaksud adalah seseorang yang bergerak, bisa digerakkan dan menggerakkan orang lain dalam hal kebaikan. Dalam proses pengkaderan ini juga memiliki pedoman dan tahapan tertentu, pedomannya salah satunya dengan dibentuknya pola kaderisasi. Kemudian adapun tahapannya yaitu, pertama proses pengenalan (ta’rif), kedua pembentukan (takwim) dan ketiga pengkaryaan (tanfidz). Melalui tiga tahap tersebut, akan mencetak kader-kader yang nantinya kan terjun ke berbagai medan dakwah, seperti di sya’bi, sekolah, kampus dan parlemen.
            Membahas terkait medan dakwah, salah satunya adalah di sekolah. Dakwah disekolah ini sudah dimulai pada era 90an atau 80 an pada jenjang SMP yang sudah ada halaqah. Untuk dakwah sekolah di Yogyakarta sendiri dimulai pada tahun 1993. Dalam hal ini juga ada fase-fase dakwah:
1.     Tandzimi (struktur).
2.     Sya’bi (masyrakat).
3.     Muasasi (kelembagaan).
4.     Dauli (menguasai Negara)
Belum sampai pada fase ini.
            Saat ini dakwah kita masih dalam proses menuju fase keempat (Dauli). Hal ini merupakan tantangan bagi para pelaku dakwah, sehingga harus bekerja lebih maksimal dan konsisten menuju fase Dauli ini. Namun, saat ini masih terdapat masalah-masalah internal yang menjadi salah satu penghambat berjalannya kereta dakwah ini. Sehingga, diharapkan dalam dakwah sekolah ini nantinya bisa melaksanakan pembinaan dasar yang lebih kreatif dan dapat menjawab tantangan perkembangan zaman yang dibutuhkan oleh pelajar. Diharapkan dalam dakwah sekolah ini secara kuantitas dan kualitas memiliki kader yang banyak yang mempunyai personal dengan ruhiyah yang baik serta dapat mengusai terkait pergerakan dan dapat dipandang baik dari berbagai kalangan. Dalam dakwah sekolah ini pun kita haarus bergerak dinamis, bukan statis. Seperti halnya terkait mentoring sebagai pembinaan dasar di sekolah. Sebagai pengelola mentoring disekolah, kita harus berupaya bagaimana untuk menjadikan mentoring bukanlah hal yang monoton dan membosankan. Dari pengelola mentoring harus kreatif dalam mengemas mentoring supaya lebih menarik dan pelajar semangat mengikutinya, misalnya dengan adanya bedah film bersama, mentoring alam, lomba poster kebaikan dan sebagainya yang sudah mulai dilaksanakan di SMA . Meskipun hal ini, dirasa belum maksimal karena persiapan yang kurang maksimal sebab SDM yang cukup minim dalam menangani hal ini. Sehingga, perlunya ide-ide baru dalam pengemasan mentoring dan juga tidak menutup kemungkinan untuk mengadakan event dengan kejasama melaui pengelola mentoring sekolah lain. Sehingga akan lebih mudah memperluas sayap-sayap dakwah di bumi Allah. 
            Dalam berbagai proses pembinaan dakwah sekolah tersebut juga memiliki SPES (Social Politic Engineering of School). SPES merupakan sebuah rekaya dakwah berdasarkan analisis dari situasi dan kondisi yang ada di sekolah masing-masing. Untuk melakukan SPES ini diperlukan 3 hal yang harus dilakukan yaitu memikirkan strategi dakwah, menganalisis SWOT sekolah dan screnshoot kondisi di sekolah. Tiga hal ini yang nantinya dapat dijadikan dasar dalam proses pembuatan SPES dengan melihat potensi yang ada di sekolah guna mengoptimalkan kerja. Namun, tidak kalah penting juga dalam merencanakan dan proses pembuatan SPES ini juga harus melaui sebuah syuro’ atau musyawarah untuk mencapai sebuah keputusan bersama. Dalam syuro’ ini juga ada tahapan syuro’ nya yaitu, menyiapkan SWOT (pra), melihat efek program kerja dan menganalisinya (saat berlangsung) dan follow-up dan penjagaan program kerja (pasca). Dalam realita syuro’, masih banyak hal yang harus mulai dibenahi. Mulai dari waktu yang tidak sesuai jadwal, kefektifak syuro’ yang sering tidak fokus, anggota yang berhalangan hadir karena kesibukan masing-masing dan follow-up program kerja yang masih kurang maksimal. Oleh karena itu, maka mulai saat ini evaluasi dari pribadi masing-masing, kemudian evaluasi kinerja kita selama ini lalu dilakukan analisis yang nantinya akan menghasilkan sebuah solusi yang lebih baik untuk perjalanan kereta dakwah lebih mudah. Sebab, kereta dakwah ini akan terus berjalan hingga nanti mendarat di surgaNya. Semoga kita semua diberikan kekuatan dan keistiqomahan dalam jalan dakwah ini, hingga lelah itu lelah mengikuti kita karena sejatinya jika sudah Lillah maka tak akan lelah.

Wallahu’alam bissawab…
-Ch

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Arti Kebarokahan dalam Hidup?

Bismillah.. Sudah hampir 1 tahun berada di Bogor, kota hujan penuh keberkahan. Selayaknya di Jogja yang begitu banyak taman-taman surge (majelis ilmu), di Bogor pun cukup bertebaran taman-taman surge meskipun tidak sebanyak di Jogja. Memang, di Jogja setiap hari ada kajian dari waktu subuh hingga isya’ di berbagai masjid-masjid, kampong dan kampus. Maka tak heran jika ada teman yang mengatakan bahwa ‘Jogja itu surganya kajian’ .   Itulah mungkin salah satu dari kerinduan Jogja.. Salah satu majelis ilmu yang saya ikuti pada hari Sabtu, 21 September 2019 yakni kajian Ngariung Yuk yang ternyata udah batch 6. Kajian ini ternyata juga diadakan dari Bogor Raincake milik pasangan artis Shireen Sungkar dan Teuku Wisnu (a.k.a cinta fitri yang terwujud di dunia nyata). Pada Kajian Ngariung Yuk batch 6 ini mengundang seorang Ustadz ternama yakni Ust Oemar Mita di The Sahira Hotel, Bogor. Meskipun ada kuota tapi acara ini gratis. Hal ini cukup menginspirasi saya bahwa bisnis yang kemud

BAHAGIA: bukan tentang harta, tapi tentang rasa

          Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) didapuk sebagai provinsi termiskin di Pulau Jawa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan sebanyak 11,49% penduduk miskin pada 2022. Artinya, pengeluaran mereka berada di bawah garis kemiskinan Yogyakarta, yakni Rp551.342 per kapita/bulan. Sedangan Indeks Pembangunan Manusaia (IPM) di provinsi DIY tertinggi kedua nasional yakni sebesar 80,64 pada 2022. IPM menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya.Mari melihat satu data lagi yakni indeks kebahagiaan DIY sebesar 71,7 pada 2021, angka lebih besar dari rata-rata nasional yang sebesar 71,49. Indeks Kebahagiaan Indonesia merupakan indeks komposit yang dihitung secara tertimbang menggunakan dimensi (perasaan dan makna hidup) dan indikator dengan skala 0-100. Semakin tinggi nilai indeks menunjukkan tingkat kehidupan penduduk yang semakin bahagia.                       Data kemiskinan,

Rekomendasi Buku dan Kelas Pra-Nikah