Langsung ke konten utama

My Journey : Day 5 (Last Day)



Bismillah...
            Setelah beristirahat malam, akhirnya pagi harinya kami check out hotel dan melanjutkan perjalanan di Thailand. Sarapan pagi di hotel ditemani dengan makanan yang unik dan enak (semacam kayak roti bakar ada margarin dan gula pasir gitu). Tapi emang, di Thailand makanannya sangat variatif, enak dan murah lagi hehe. Tujuan pertama kita adalah silaturahim ke Moslem Students Society (MSS) di Prince of Songkla University (PSU) di Hatyai. MSS itu semacam lembaga dakwah kampus disana. 
Prince of Songkla University
Suasana Diskusi bersama MSS

snack nya enak (*gak penting)


            Alhamdulillah, sesampainya di kampus PSU kita disambut dengan sangat ramah dan hangat oleh temen-temen MSS. Dilanjutkan diskusi dan sharing bersama di dalam salah satu ruangan di kampus PSU. Diceritakan oleh ketua MSS nya terkait keanggotaan dan kegiatan-kegiatannya di Thailand (yang notabene minoritas muslim). Jumlah mahasiswa di PSU ini sebanyak 18.641 dan yang beragama Islam sebanyak 2.835, jadi jumlah mahasiswa muslimnya hanya 15% dan tidak semua bergabung di MSS ini. Kemudian juga menceritakan terkait kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh MSS ini. Seperti ada kegiatan advise camp, yaitu semacam pengenalan kampus untuk mahasiswa muslim. Ada lecture of Islam, semacam kuliah umum atau kajian keislaman gitu (dilaksanakannya biasanya per bulan atau bahkan 2 bulan sekali) karena terkendala masih tergolong susah untuk mencari ustadz disana. Bersyukurlah kita yang hidup di Indonesia, bahkan di Yogyakarta itu setiap hari pasti ada kajian dimana-mana. Ada juga development camp, mungkin kalau disini semcam latian kepemimpinan atau traning leadership gitu untuk mahasiswa muslim. Selain itu, terkait pendanaan mereka juga masih kesulitan dan terus berjuang untuk mencari donatur-donatur (mengingat minimnya masyarakat muslim disini). Tapi, sangat salut dengan perjuangan mereka yang tetap istiqomah berdakwah meskipun rintangannya berat. Sebagai muhasabah diri kita juga, kita yang berdakwah di Indonesia nggak boleh menyerah begitu saja hanya karena kerikil-kerikil kecil. #notetomyself.
foto bersama MSS

souvenir special dari temen-temen MSS

Sebelum pamit pulang, sambil memebawa souvenir yang diberikan dari MSS
            Setelah berdiskusi, tanya jawab dan sharing bersama MSS kami pun pamit pulang untuk melanjutkan perjalanan menuju Chang Puak Camp. Di Chang Puak Camp semacam kebun binatang mini khusus gajah, jadi disana cuma liat-liat gajah dan gak naik gajah karena berbayar juga haha. Di Chang Puak Camp Cuma mampir sebentar, karena kami tidak terlalu tertarik juga hehe. Lanjut menuju Budha Sleeping yaitu disana ada patung besar budha yang sedang tidur. Disini kita hanya berfoto-foto ria dan berwefie bersama.
Chang Puak Camp
 
Budha Sleeping
            Melanjutkan perjalanan menuju Tan Kwan Hill, diluarnya banyak banget monyet dan burung berkeliaran. Kemudian, beberapa orang dari kita penasaran untuk masuk ke Tang Kuak Hill dan membayar tiket masuk. Kata tour guide nya nanti bisa naik dan bisa melihat semua daerah hatyai dari atas. Kemudian kita antri untuk naik lift menuju ke atas (uniknya lifnya itu berjalur serong ke atas). Sesampainya di atas, pemandangannya bagus dan bisa melihat seluruh kota Hatyai. Mungkin kalau di Yogya semcam bukit bintang di Gunung Kidul. Tapi lebih bagus ini, karena daerahnya cukup luas, jadi jarak pandang kita pun juga bisa melihat dari berbagai sudut. 
 
burung dan monyet didekat Tang Kuak Hill


Tang Kuak Hill
           
pemandangan dari atas


salah satu spot di tang kuak hill

salah satu bangunan yang ada di atas

ini rel untuk lift (kayak tangga gitu)
Perjalanan menuju Kepala Naga, yaitu patung kepala naga yang ada di Thailand. Jadi ceritanya ada patung kepala naga, badan naga dan ekor naga nya. Tetapi, tempatnya terpisah-pisah gitu. Kata beberapa temen, ini pengganti nggak bisa liat merlion karena lagi direnov, sekarang bisa liat kepala naga di Thailand haha. Destinasi terakhir adalah di Samila Beach, letak pantainya di daerah perkotaan jadi deket banget sama jalan raya. Di pantai sekalian transit untuk tempat makan siang. Suasananya syahdu dan lumayan sejuk, tempatnya luas dan banyak penjual-penjual souvenir juga. Disinilah banyak temen-temen yang merasa dirugikan, karena penjual souvenir disini lebih murah banget kalau dibandingkan dengan penjual yang di toko souvenir sebelumnya, hehe. Terjadilah saling pinjam meminjam uang dan beli barengan. Hikmahnya, besok lagi kalau travelling jangan asal memborong oleh-oleh di satu tempat aja, harus survey terlebih dahulu, hhe. 
es krim kelapa (*tapi batoknya disuruh balikin)

makan es krim patungan bertiga (*biar irit)

patung kepala naga
            Alhamdulillah, sore itu pun kami meninggalkan Tahiland dan melanjutkan perjalanan menuju Malaysia via perjalanan darat (naik bus). Selama sekitar 8-9 jam perjalanan di dalam bus dan terakhir kami singgah di rest area Malaysia untuk makan malam. Sempat khawatir bakalan telat sampai di KLIA 2 Airport, tapi Alhamdulillah waktunya masih ada untuk persiapan boarding pass meskipun jalannya lumayan jauh menuju ruang tunggunya. 
bersama temen-temen yang nggak bisa nahan lapar setelah dari pesawat
            Finally, alhamdulillah sekitar pukul 7 pagi kita semua selamat sampai Jakarta . Beberapa dari kita pun mulai berpamitan satu sama lain untuk kembali dengan aktivitas terbaiknya masing-masing. Kemudian saya masih harus menunggu, karena jadwal pesawat ke Yogyakarta nya sekitar jam 5 sore. Pertama kali nya pergi naik pesawat sendiri dan Qadarullah pesawatnya ada kendala teknis plus delay. Sehingga, pesawatnya baru berangkat sekitar jam setengah 8 malam dan sampai Yogyakarta sekitar jam setengah 10 malam.
            Alhamdulillah, terimkasih ya Allah telah diberikan kesempatan untuk menapaki belahan bumiMu yang lain. Terimakasih kepada semua temen-temen Youth 4 Movement 2018 yang sangat luar biasa dan keren-keren. Semoga nanti kita bisa dipertemukan lagi dalam keadaan yang lebih baik lagi. Selamat dan semangat melanjutkan kebaikan di tempat masing-masing ya... ^__^. Semoga, suatu hari nanti Allah perkenankan lagi untuk menapaki belahan bumi lainNya sebagai bentuk syukur dan tafakur saya. Teringat, perkataan seseorang kepada saya, “semakin banyak kamu melakukan perjalanan, maka kamu akan semakin dewasa”. Ohya, InsyaaAllah akan rilis buku juga tentang kisah perjalanan dari temen-temen Youth 4 Movement 2018 ini, judulnya travelinspire.


#Youth4Movement2018
#Youth4MoveSick
#MyFirstTrip
#MyJourney
#Malaysia #Singapore #Thailand

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Arti Kebarokahan dalam Hidup?

Bismillah.. Sudah hampir 1 tahun berada di Bogor, kota hujan penuh keberkahan. Selayaknya di Jogja yang begitu banyak taman-taman surge (majelis ilmu), di Bogor pun cukup bertebaran taman-taman surge meskipun tidak sebanyak di Jogja. Memang, di Jogja setiap hari ada kajian dari waktu subuh hingga isya’ di berbagai masjid-masjid, kampong dan kampus. Maka tak heran jika ada teman yang mengatakan bahwa ‘Jogja itu surganya kajian’ .   Itulah mungkin salah satu dari kerinduan Jogja.. Salah satu majelis ilmu yang saya ikuti pada hari Sabtu, 21 September 2019 yakni kajian Ngariung Yuk yang ternyata udah batch 6. Kajian ini ternyata juga diadakan dari Bogor Raincake milik pasangan artis Shireen Sungkar dan Teuku Wisnu (a.k.a cinta fitri yang terwujud di dunia nyata). Pada Kajian Ngariung Yuk batch 6 ini mengundang seorang Ustadz ternama yakni Ust Oemar Mita di The Sahira Hotel, Bogor. Meskipun ada kuota tapi acara ini gratis. Hal ini cukup menginspirasi saya bahwa bisnis yang kemud

BAHAGIA: bukan tentang harta, tapi tentang rasa

          Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) didapuk sebagai provinsi termiskin di Pulau Jawa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan sebanyak 11,49% penduduk miskin pada 2022. Artinya, pengeluaran mereka berada di bawah garis kemiskinan Yogyakarta, yakni Rp551.342 per kapita/bulan. Sedangan Indeks Pembangunan Manusaia (IPM) di provinsi DIY tertinggi kedua nasional yakni sebesar 80,64 pada 2022. IPM menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya.Mari melihat satu data lagi yakni indeks kebahagiaan DIY sebesar 71,7 pada 2021, angka lebih besar dari rata-rata nasional yang sebesar 71,49. Indeks Kebahagiaan Indonesia merupakan indeks komposit yang dihitung secara tertimbang menggunakan dimensi (perasaan dan makna hidup) dan indikator dengan skala 0-100. Semakin tinggi nilai indeks menunjukkan tingkat kehidupan penduduk yang semakin bahagia.                       Data kemiskinan,

Ruh Langit Keluarga

  Ahad, 28 Mei 2023 [Catatan Singkat: Kelas Jadi Istri bersama Teh Febrianti Almeera] Bismillahirahmanirrahim.. Sesi ini beliau banyak menyampaikan terkait visi misi sebuah keluarga, bagaimana seharusnya menjadi istri yang sesuai dengan fitrah. Setiap keluarga itu isinya perjuangan, dengan perjuangannya masing-masing yang pastinya berbeda setiap keluarga. Visi keluarga : setiap muslim itu harusnya mempunyai visi yang sama yakni meraih ridha Allah supaya mendapatkan tiket masuk surga. Nah, baru misinya (langkah-langkah untuk mewujudkan visi) yang berbeda setiap keluarga. Misi keluarga : merupakan peleburan potensi suami dan istri menjadi potensi yang lebih besar dan harus mempunyai ruh langit . Misi ini datang dari Allah, dilakukan oleh suami yang dibantu oleh istri. Misi ini dipegang oleh suami, maka ketika kita memilih suami berarti kita juga sedang memilih nahkoda untuk melakukan perjalanan bahtera rumah tangga. Beliau juga menyampaikan terkait bagaimana cara kita menemuk