Langsung ke konten utama

Ujian (Keimanan) Skripsi #4 : Usaha Maksimal dan Total Tawakal




Bismillah, ya skripsi ini masih harus diperjuangkan. Usaha pun harus saya lakukan semaksimal mungkin. Segala cara saya tempuh untuk menyelesaikan berbagai permasalahan dalam skripsi saya. Usaha selalu setia mengirim email penulisnya, meminta bantuan temen buat ikut mengemail, sms, bertanya ke dosen dan banyak hal lainnya.  Kalau dalam Al Qur’an usaha maksimal itu (mastho’tum) dan menurut seorang ulama arti kata mastho’tum itu seperti kita berlari mengelilingi lapangan bukan berapa banyak kali putaran, tetapi sampai sudah tidak kuat lagi atau sampai di titik mau pingsan. Hmh... MasyaAllah begitulah ternyata yang dinamakan berusaha maksimal. Sampai titik darah penghabisan, hingga kita tidak lagi mengeluh karena tidak lagi berdaya. Sulit memang, tapi itulah perjuangan. Sebab tidak ada perjuangan tanpa sebuah pengorbanan.
Ketika sudah berusaha maksimal, saatnya dengan sepenuh hati bertawakal pada Allah. Saat itu, rasanya sudah berada dititik kritis, entah sudah berapa kali saya menangis. Menangis seakan merasa sudah tidak lagi sanggup untuk menyelesaikannya. Hingga beberapa kali ketika pulang, dijalan raya yang penuh dengan keramaian kehidupan saya sering berpikiran bahwa saya sendiri yang mempunyai masalah dan tak tahu bagaimana solusinya. Astagfirullah, itu merupakan kesalahan besar yang telah saya lakukan. Di sinilah, keimanan saya mulai diuji. “Apakah saya sudah sepenuhnya yakin bahwa Allah pasti memberikan solusi dari sebuah permasalahan?”. “Apakah saya meragukan janji Allah untuk setiap hambaNya yang selalu berdoa dan berusaha?”. “Apakah Allah tidak memperhatikan hambaNya?”. Ya, di saat itu saya merasa bahwa tingkat keimanan saya benar-benar diuji. Seberapa besar saya bergantung pada Allah, apakah sudah 100% hati ini bertawakal padaNya.
Saat itu, saya mencoba untuk menyempurnakan keyakinan melalui memperkuat ibadah, tilawah dan juga nonton lagi ceramahnya Ust Hanan Attaki yang berhubungan dengan masalah, janji Allah, pertolongan Allah dan lain-lain. Seiring berjalannya waktu, sekitar beberapa minggu saya merasa lebih tenang dalam menghadapi ini semua. Alhamdulillah... memang, ketika semuanya dipasrahkan dan yakin akan datangnya pertolongan Allah maka akan lebih bahagia setiap melangkah.
Alhamdulillah, hati saya menjadi lebih tenang. Datangnya solusi hanya dari Allah, adapun manusia hanyalah sebagai perantara saja. Terkadang untuk mendapatkan sebuah solusi kita harus melewati beberapa proses. Alhamdulillah, saya mendapatkan pertolongan Allah yaitu datangnya solusi secara tersirat. Setelah itu, saya melanjutkan dan merapikan total draft skripsi saya. Sekitar akhir bulan Agustus lalu saya mendaftarkan untuk ujian skripsi dan tinggal menunggu jadwal keluar.
Saya beritahu bapak dan ibu kalau saya sudah mendaftar ujian skripsi dan memohon doa restu dari beliau. Dalam penantian jadwal itu pun semakin saya mencoba untuk lebih dekat padaNya. Ya, hanyalah pada Allah kita berdoa dan meminta. Semua berada dalam kekuasaan Allah. Setiap hari saya berusaha untuk tilawah QS Ar Rahman dan QS Al Fath. QS Ar Rahman merupakan surat pilihan, terdapat 33 kali ayat yang memilki makna “maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”. Makna yang senantiasa bisa kita ingat, betapa banyak sekali nikmat yang telah Allah berikan. Akan tetapi kita sering lupa untuk bersyukur. Salah satunya saya masih bersyukur karena bisa mendapatkan mengerjakan skripsi dan merasakan bagaimana duka citanya. Masih banyak orang diluar sana yang tidak pernah merasakan skripsi karena terkendala faktor ekonomi, kesehatan atau yang lainnya. Banyak orang yang masih berjuang untuk mencari sesuap nasi untuk keluarga bahkan dirinya sendiri dengan berbagai cara. Selanjutnya yaitu QS Al Fath yang berarti kemenangan. Kemenangan yang nyata dan pertolongan yang kuat datang hanya dari Allah.
Sekitar dua minggu lamanya, akhirnya jadwal dan dosen penguji sementara sudah keluar. Salah satu dosen penguji saya seorang professor senior, saya sempat cemas setelah mendengar hal itu (re: takut diuji beliau). Kemudian, saya tanya kembali untuk memastikannya dan akhirnya karena beliau tidak bisa akhirnya digantikan oleh dosen lain. Jadwal sidang skripsi dan 3 dosen penguji (salah satunya ada dosen dari prodi matematika) sudah fix yaitu hari rabu, 13 september 2017 pagi hari pukul 08.00 WIB.  Bismillah...

bersambung...
hujan...
Plosokuning, 10 Oktober 2017
20 Muharram 1439 H


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Arti Kebarokahan dalam Hidup?

Bismillah.. Sudah hampir 1 tahun berada di Bogor, kota hujan penuh keberkahan. Selayaknya di Jogja yang begitu banyak taman-taman surge (majelis ilmu), di Bogor pun cukup bertebaran taman-taman surge meskipun tidak sebanyak di Jogja. Memang, di Jogja setiap hari ada kajian dari waktu subuh hingga isya’ di berbagai masjid-masjid, kampong dan kampus. Maka tak heran jika ada teman yang mengatakan bahwa ‘Jogja itu surganya kajian’ .   Itulah mungkin salah satu dari kerinduan Jogja.. Salah satu majelis ilmu yang saya ikuti pada hari Sabtu, 21 September 2019 yakni kajian Ngariung Yuk yang ternyata udah batch 6. Kajian ini ternyata juga diadakan dari Bogor Raincake milik pasangan artis Shireen Sungkar dan Teuku Wisnu (a.k.a cinta fitri yang terwujud di dunia nyata). Pada Kajian Ngariung Yuk batch 6 ini mengundang seorang Ustadz ternama yakni Ust Oemar Mita di The Sahira Hotel, Bogor. Meskipun ada kuota tapi acara ini gratis. Hal ini cukup menginspirasi saya bahwa bisnis yang kemud

BAHAGIA: bukan tentang harta, tapi tentang rasa

          Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) didapuk sebagai provinsi termiskin di Pulau Jawa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan sebanyak 11,49% penduduk miskin pada 2022. Artinya, pengeluaran mereka berada di bawah garis kemiskinan Yogyakarta, yakni Rp551.342 per kapita/bulan. Sedangan Indeks Pembangunan Manusaia (IPM) di provinsi DIY tertinggi kedua nasional yakni sebesar 80,64 pada 2022. IPM menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya.Mari melihat satu data lagi yakni indeks kebahagiaan DIY sebesar 71,7 pada 2021, angka lebih besar dari rata-rata nasional yang sebesar 71,49. Indeks Kebahagiaan Indonesia merupakan indeks komposit yang dihitung secara tertimbang menggunakan dimensi (perasaan dan makna hidup) dan indikator dengan skala 0-100. Semakin tinggi nilai indeks menunjukkan tingkat kehidupan penduduk yang semakin bahagia.                       Data kemiskinan,

Rekomendasi Buku dan Kelas Pra-Nikah